Studi Pengayaan Lapangan di LAZISMU Kota Batu

Didirikan pada 18 November 2008, LAZISMU (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqoh Muhammadiyah) Kota Batu saat ini berhasil mencatat jumlah muzakki yang ada di kota Batu yaitu sekitar 1.300-an. Saat pertama berdirinya, LAZISMU memiliki nama RAIMU (Rumah Amal Indonesia Muhammadiyah). Hal yang melatar belakangi berdirinya LAZISMU ini adalah munculnya keinginan para pemuda-pemuda pendiri LAZISMU untuk menyatukan jalur masuk uang-uang infaq yang ada.
Salah satu yang menjadi tujuan pendirian lembaga ini adalah menjadikan para mustahik naik derajat hingga menjadi muzakki. Hal ini dilakukan dengan wujud penyaluran dana zakat dari lembaga ini kepada mustahik, akan tetapi untuk penyaluran yang pertama kepada mustahik dana zakat hanya bersifat konsumtif, lalu apabila dinilai layak maka selanjutnya akan dilanjutkan lagi penyaluran dananya yang bersifat produktif.
LAZISMU dalam perannya di Muhammadiyah adalah menjadi lembaga pengumpul dana yang akan digunakan oleh berbagai lembaga yang ada di bawah Muhammadiyah seperti MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) yang mengurusi penyaluran bantuan kepada daerah-daerah yang terkena bencana. Sebagian besar dana yang disalurkan dari lembaga ini adalah untuk kegiatan sosial seperti baksos pada bulan Ramadhan dan juga memberikan santunan kepada istri-istri mujahid (orang-orang yang pernah berjuang untuk Muhammadiyah kemudian meninggal) sehingga bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga anak-anaknya bahkan membiayai anaknya hingga selesai masa pendidikannya.
Di akhir sesi tanya jawab, LAZISMU Kota Batu memiliki satu permasalahan besar yang dihadapi yaitu kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) untuk menjadi tenaga amil zakat, karena menjadi amil itu sendiri haruslah orang yang paham terhadap agama, memiliki mental dan etos kerja yang bagus, bisa dipercayai orang dan jujur. (Hes)

Oleh: F. Huda. W