SEPAK TERJANG RAKYAT MADURA DI SURABAYA DARI PRAKTISI HUKUM HINGGA PEMILIK RUMAH MAKAN

Kunjungan Mahasiswi Prodi HES Ke Depot Sego Meduro di Surabaya Dalam Rangka
Studi Akademik (SA)

Jum’at, 24 Januari 2020

Kunjungan Mahasiswi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Semester 2 dalam rangka Studi Akademik ke LBH dan Depot Sego Meduro di Surabaya disambut hangat oleh kedua instansi yang ternyata dikelola oleh warga Madura yang hijrah ke Surabaya.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya didirikan pada tanggal 28 oktober 1978 oleh orang yang berprofesi sebagai Advokat. Sebagaimana yang di paparkan oleh Bapak Sahura sebagai Kepala Divisi Riset dan penelitian dan Bapak Habibus Shalihin sebagai Kepala Divisi Kemiskinan Dan Perburuhan bahwa instansi ini tidak hanya berfokus terhadap satu isu saja. Akan tetapi, ada 3 isu yang ditangani yakni ;

  1. Demokrasi.
  2. Hak Asasi Manusia (HAM).
  3. Akses terhadap keadilan.

Dan instansi ini mempunyai tugas dalam membela kelompok miskin dan rentan untuk mendapatkan hak-haknya seperti hak ekonomi, sosial, budaya, sipil, dan politik dalam kasus tertentu yang bersifat publik dan struktural. Serta posisi LBH ini, selau ada untuk membela korban. Namun, LBH ini tidak akan membela para koruptor dan kekerasan terhadap anak dan rumah tangga.

Peran LBH dalam membantu masyarakat untuk berani menyuarakan hak keadilannya sebagai berikut ;

  1. Memberikan Pendidikan serta bimbingan dalam pengertian hukum.
  2. Menguatkan psikolog masyarakat dalam menyikapi suatu permasalahan.
  3. Dan meyakinkan masyarakat bahwa setiap permasalahan memiliki jalan keluar.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa LBH adalah suatu Lembaga yang dengan sukarela mengulurkan tangannya untuk membantu mereka yang membutuhkan bantuan hukum.

Depot Sego Madura Suramadu “Bu Ana”

Bermula dari ujian yang dialami oleh Bapak Munawar yang tertipu Miliyaran Rupiah oleh rekan bisnisnya sendiri. Untuk bertanggungjawab atas hutang-hutang tersebut serta menghidupi keluarganya, akhirnya beliau mengikhlaskan satu satunya aset yang dimiliki yaitu rumah yang ditempatinya dan berserah diri kepada Allah bahwa Allah telah menetapkan jalan yang terbaik untuknya. Kemudian beliau berinisiatif untuk membuka suatu usaha, dari bakat yang dimiliki oleh sang istri tercinta. Bermodalkan 2 kg beras dan tekad yang kuat, beliau mulai merintis usahanya. Sehingga sampai saat ini, beliau telah mendirikan tiga cabang di Surabaya.

Nama “Suramadu” ini, berasal dari makanan khas madura yang dijual di Surabaya dan terinspirasi dari berdirinya jembatan yang menghubungkan antara Surabaya dan Madura pada tanggal 10 Juni 2009. Dan beliau sempat membagikan beberapa tips kepada Mahasiswi Universitas Darussalam Gontor saat berkunjung pada Jum’at, 24 Januari 2020 dalam membangun suatu usaha, yaitu :

  1. Usahakan bahwa suasana tempat dapat menarik hati para pelanggan, seperti suasana yang cerah dan tempat yang bersih.
  2. Berani tampil beda.
  3. Ciptakan rasa harmonis sesame karyawan.
  4. Serta berani mengambil resiko tertinggi, seperti pembatalan pemesanan dalam jumlah yang besar.

Dan diakhir pertemuan beliau memberikan sedikit nasihat bahwa sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah untuk jangan takut mengeluarkan sejumlah harta kita dijalan-Nya, karena sebagian harta yang kita miliki adalah hak orang lain. Dan tetap berusaha walau ujian datang menerpa karena sesungguhnya ujian merupakan nikmat dari Allah untuk mengingatkan makhluk-Nya agar selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan.

By: Yassinta, Chania

Leave a Comment