Meraih Kebahagiaan Hidup Dengan Bersyukur

Setiap manusia pasti pernah merasakan suka dan duka, susah dan senang, lapang dan sempit. Namun perlu di ketahui bahwa keduanya mempunyai peluang untuk mengantarkan seseorang meraih derajat tinggi di sisi Allah, dan juga bisa menjadi jalan bagi seseorang menuju kehinaan. Semua itu kembali kepada sikap seseorang tersebut dalam memaknai dua kondisi diatas.

Dalam Al-Quran, dua kondisi tersebut diatas di sebut dengan istilah As-Sarrā’u wa Ad-dhorrā’u. Secara garis besar makna As-Sarrā’u mencakup segala keadaan menyenangkan yang dialami manusia seperti diberi kemudahan, kebahagiaan, kesehatan. Sebaliknya, makna dari Ad-dhorrā’u meliputi segala keadaan tidak menyenangkan seperti mengalami kesulitan, kesedihan, sakit. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al’-A’rāf ayat : 95 :

            “Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan (sehingga keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan,” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.” Al’-A’rāf ayat : 95

Dalam menghadapi dua kondisi diatas, maka di perlukan dua sikap yang harus di miliki oleh setiap orang yang beriman, dua sikap tersebut adalah :

  1. Sabar

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 153 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ  ( البقرة : 153)

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Salah satu sikap yang perlu ditanamkan dalam kehidupan, ketika mengalami kesulitan ( Ad-dhorrā’u ) adalah pribadi yang sabar. Baik itu berupa kesulitan dalam urusan dunia, duka atas meninggalnya orang tercinta, kesempitan dalam soal rezeki, sakit parah yang membuat payah, dan persoalan lainnya yang tidak menyenangkan dalam kehidupan.

Pribadi yang sabar tidak akan mengeluh apalagi marah atas ujian kesedihan dan kesulitan hidup yang menimpanya. Ia justru mengembalikan semuanya kepada Allah Sang Pencipta, Pengatur, Penguasa, Pendidik, dan Pemilik segala yang ada di alam semesta. Bahkan pada setiap musibah yang menimpa seseorang, sekecil apapun itu, maka Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya jika ia ridha menerimanya dengan sabar.

Rasulullah SAW Bersabda :

 حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ ‏”‏‏.‏

“Orang mukmin yang ditimpa kepayahan, kesedihan atau sakit yang terus-menerus sampai kepada kesengsaraan yang menyusahkan, maka Allah akan menghapus kejelekan-kejelekannya dengannya.” (HR Tirmidzi).

  1. Syukur

Sikap syukur perlu ditunjukkan seseorang sebagai bentuk pengakuan dan kesadaran bahwa semua nikmat yang diterimanya adalah karunia Allah. Baik nikmat berupa kelancaran dalam urusan dunia, kecukupan rezeki, kesehatan, dan lain sebagainya. Sebab, jika bukan karena kasih sayang dan kemudahan yang Allah berikan, tentu semua kenikmatan itu tidak akan bisa dirasakan. Ungkapan syukur tersebut ditunjukkan melalui lisan dalam bentuk pujian kepada Allah, pengakuan dalam hati, lalu diwujudkan dengan menjalankan ketaatan kepada Allah melalui amal perbuatan. Hal tersebut sebagaimana di ungkapkan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah :

” الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة”

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Pertama : melalui lisan, yaitu berupa pujian dan kesadaran bahwa ia telah diberi nikmat. Kedua : melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Ketiga : melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.”

Maka dari itu, perlu diketahui, bahwa selama manusia hidup di dunia akan di hiasi dengan kenikmatan dan ujian, yang mana kedua hal tersebut diberikan dengan tujuan untuk menguji seberapa besar keimanan seseorang kepada Allah S.W.T. Kunci dalam menerima kenikmatan adalah Syukur dan kunci dalam menerima kesulitan/kesusahan yaitu dengan Sabar.

Penulis: Mohammad Syifa Urrosyidin, S.E.I., M.Pd.

Leave a Comment