Kultum Singkat Tentang Rezeki Merupakan Ketentuan Allah Terhadap Hambanya oleh Al-Ustadz Faridl Noor Hilal, S.H.I., M.M.A

Berita HES

UNIDA Gontor – Seperti biasanya, setiap ba’da dzuhur ada kultum singkat yang disampaikan dosen untuk seluruh mahasiswa UNIDA Gontor. Pada kesempatan ini, Selasa, 18 Februari 2020, yang menyampaikan adalah Al-Ustadz Faridl Noor Hilal, S.H.I., M.M.A, Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah UNIDA Gontor.

Pada kesempatan ini beliau menyampaikan bahwasannya segala rezeki setiap manusia  sedikit atau banyak sudah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hal yang perlu dilakukan hanya dua pilihannya yaitu mendapatkannya melalui jalan yang dibenarkan oleh Allah secara halal atau melalui jalan yang tidak dibenarkan oleh Allah secara haram.

Dalam kultum ini beliau pun menyampaikan sebuah perkataan Ibnu Qoyyim Al-Jauzy, ia pernah berkata “saya selalu merasa senang menghadapi kehidupan dunia ini dikarenakan  dua hal”. Pertama Ibnu Qoyyim Al-Jauzy mengatakan “ saya selalu senang dan tenang menghadapi dunia ini, karena umur manusia sudah ditentukan”, akan tetapi pada kesempatan ini beliau akan membicarakan hal yang kedua terkait perkataan Ibnu Qoyyim Al-Jauzy yaitu “saya selalu senang dan tenang menjalani kehidupan di dunia ini karena saya tahu bahwasannya rezeki setiap orang sudah ditentukan oleh Allah”.

Kemudian beliau menambahkan, ada sebuah kisah yang menceritakan sayyidina Ali dan anak si penjaga unta, dalam hal yang menyangkut ketentuan Allah dalam memberikan rezeki. Dalam kisah tersebut beliau memberikan penjelasan bahwa kita harus bersabar mengikuti ketentuan yang sudah dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rezeki seseorang itu telah ditentukan, namun orang itu sendiri lah yang menentukan bagaimana cara mendapatkan rezeki tersebut. Apakah melalui jalan yang Allah benarkan artinya jalan yang halal atau melalui jalan yang tidak dibenarkan Allah artinya jalan yang haram.

Beliau pun menyampaikan sebuah hadits yaitu, وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ كُلُّكُمْ رَاعٍ yang artinya ” kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin” maksud dari penyampaian hadits tersebut ialah ketika kita menjadi seorang pemimpin contohnya dalam pemimpin rumah tangga, maka seorang pemimpin tersebut harus lah mencarikan rezeki melalui jalan yang halal untuk keluarganya, karena segala perbuatan akan dipertanggung jawabkan.

Di akhir kultum beliau menyampaikan bahwa pada zaman ini sangat sedikit yang memperhatikan dari mana rezekinya didapat, karena apa yang kita makan dan berikan kepada keluarga kita haruslah berasal dari jalan yang halal dan beliau mengajak untuk kembali  mengingat dan mempelajari tentang halal dan haram dalam Islam yang tentunya akan menjadi bekal ketika di dunia dan di akhirat kelak.

M.Sidik Niki Winata/PBA 2