Konsep Fitrah dalam Islam

Istilah “Fitrah” merupakan kesucian jiwa dan rohani, yang memiliki arti bahwa manusia sejak lahir dalam keadaan suci tidak memiliki dosa. Fitrah secara etimologi,  disebut Al-khilqah (naluri, pembawaan) dan althabȋ’ah (tabiat, watak, karakter) yang diciptakan Allah SWT pada manusia. Fitrah merupakan potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah.

Dalam al-Maraghi, disebutkan “Fitrah” merupakan kecenderungan untuk menerima kebenaran. Sebab kebenaran fitri manusia cenderung dan berusaha mencari serta menerima kebenaran walaupun hanya bersemayam dalam hati kecilnya.

كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه

Hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa manusia itu ketika lahir dalam keadaan fitrah (suci/agama Islam). Orang tuanyalah yang memiliki pengaruh yang penuh dalam membentuk kepercayaan pada anaknya. Pada hadits tersebut tidak disebutkan kata “untuk mengislamkannya mengandung arti bahwa memang sebelumnya seorang anak memiliki potensi untuk beragama Islam, menjadi orang Yahudi, Nashrani ataupun majusi adalah pengaruh dari keyakinan orang tua mereka.

Adapun dalam ayat al -qur’an tentang fitrah manusia, surat al Ruum ayat 30 mengenai fitrah manusia terhadap agama Allah (Islam) adalah sebagaimana berikut:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ  لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ  30.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. ( Ar-Rum: 30).”

Fitrah manusia merupakan tahap awal di mana proses manusia sebelum mendapatkan ilmu pengetahuan, manusia pada tahap ini diibaratkan seperti kertas putih (teori tabularasa) yang kosong yang belum tercoret dengan tulisan apapun. Lingkungan dan keluarga lah yang akan membentuk anak tersebut. Manusia juga dapat dipengaruhi oleh keyakinan orang tuanya akan diarahkan kemana keyakinan itu.

Pembagian fitrah manusia ada 4 yaitu,

  1. Fitrah Al-Munazzalah, fitrah luar yg masuk dlm diri manusia. Fitrah ini berupa petunjuk al-Qur’an dan as-sunnah yg digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi fitrah.
  2. Fitrah Al- Gharizah, yaitu fitrah inheren dalam diri manusia yg memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
  3. Fitrah Suci, yaitu pada hakikatnya manusia itu suci dari fitrahnya, tetapi sebenarnya hati mereka telahh tertutup dengan dosa- dosa yang mereka perbuat.
  4. Fitrah Intelektual, (aqliyah), potensi ini terdiri dari panca indera dan akal pikiran (pendengaran, penglihatan, dan hati). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah tentang kekuasaan Allah.

Dapat disimpulkan bahwa fitrah manusia merupakan potensi yang ada dalam diri manusia yang mampu mengarah pada fitrah baik maupun buruk, potensi yang sudah menjadi bawaan manusia sejak lahir ini terus mengalami perkembangan seiring dengan semakin berkembangnya akal pikiran manusia dan pada akhirnya manusia akan mengakui bahwa Tuhan itu ada sehingga mereka akan kembali kepada tuhannya.

Wallahu A’lam Bishowaab

Ditulis Oleh: Halida Umami, M.Pd

Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Darussalam (UNIDA) GONTOR

Leave a Comment