BERDAGANG ALA RASULULLAH

Berita HES

Dalam sejarah mengatakan bahwa Nabi Muhammad memulai karir dalam perdagangan sejak usia 12 tahun bersama pamannya, Abu Thalib. Jiwa entrepreneurnya telah dipicu dengan suasana perdagangan skala internasional di berbagai negara seperti Suriah, Yordania, dan Lebanon. Di usianya yang belasan tahun rasulullah telah mampu bersaing dengan para pengusaha besar yang sangat berpengalaman. Pada puncak karirnya bekerja sama dengan khadijah untuk ekspansi usaha ke beberapa negara timur tengah seperti Yaman, Bahrain, dan Oman.
Menurut sejarahwan, Rasulullah berdagang hingga berusia 37 tahun. Jika kita hitung beliau mulai berdagang di usia 12 tahun hingga 37 tahun berarti Rasululah telah berdagang selama 25 tahun. Jumlah tersebut lebih banyak dari masa tugas kenabiaan yang hanya 23 tahun.
Berikut adalah beberapa cara Berdagang Rasulullah SAW dalam mengembangkan suatu Bisnis agar lebih sukses dan diridhoi oleh Allah SWT:

  1. Niat karena Allah SWT

Dalam mengawali usaha Berdagang kita harus memiliki Niat terlebih dahulu, jikalau seorang Pedagang sudah memiliki Niat yang baik maka akan baik pula apa yang ia lakukan. Dalam hadist Bukhori dan Muslim disebutkan:

Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

2.Bersikap Jujur
Dalam berdagang Rasulullah SAW tidak pernah mengurangi takaran timbangannya dan Beliau selalu menyampaikan kondisi barang tersebut Baik dan Buruknya, dengan sifat jujur nya tersebut maka Rasulullah di juluki oleh Masyarakat sekitar dengan julukan AL- Amin.
Allah SWT juga menyampaikan dalam alquran surat (AsySy’araa: 181-183) tentang pentingnya dalam bersikap jujur.

3.Menjual barang berkualitas bagus
Rasulullah SAW sangat mementingkan kualitas barang yang dijualnya dan Beliau tidak pernah menjual barang-barang yang cacat karena akan merugikan pembeli dan dapat menyebabkan dosa bagi penjualnya.

4.Saling menguntungkan kedua belah pihak
Rasullah SAW dalam perdagangannya mengutamakan keuntungan bagi kedua belah pihak, dalam perdagangannya Rasulullah tidak pernah menutup-nutupi dari barang dagangannya, maka harus adanya suatu kepekatan antara penjual dan pembeli.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah dua orang yang berjual-beli berpisah ketika mengadakan perniagaan kecuali atas dasar suka-sama suka. (HR. Ahmad).

Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka. (HR. Ibnu Majah)

5.Tidak melupakan ibadah
Kunci yang paling utama dalam Berdagang ala Rasulullah adalah Ibadah. Allah SWT bersabda dalam Al-Quran Surat (AL- Jumu’ah 9-10).
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS.Al Jumu’ah :9-10)
Created: Haidar Muhammad & Muhammad Rifaldi Mnj 2